Jayanagara, Raja Wilwatikta ke-2

Jayanagara adalah raja ke dua dari kerajaan Majapahit. Menurut Paraton, Jayanagara adalah Kalagement putra dari Raja Wijaya dan Dara Petak. Beliau lahir pada tahun 1294  dan wafat pada tahun 1328. Masa pemerintahannya adalah tahun 1309 sampai dengan 1328, dengan bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara.

Dara Petak, ibu dari Jayanagara merupakan seorang putri yang berasal dari Sumatera, tepatnya berasal dari kerajaan Dharmasraya. Beliau dibawa oleh Kebo Anabrang setelah 10 hari pasukan Mongol diusir dari Majapahit.

Jayanagara sendiri diangkat menjadi raja masih sangat kecil, sehingga pemerintahan dilakukan oleh Lembu Sora. Hal tersebut disebutkan pada prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha.

Menurut catatan seorang Misionaris Odorico da Pordenone yang datang ke pulau Jawa dan menyaksikan pemerintahan Jayanagara, di tahun 1321, Mongol kembali menyerang dan mencoba untuk menjajah, tetapi dapat diusir oleh Majapahit. Dimana daratan China saat itu sedang dikuasai oleh dinasti Yuan.

Di dalam pemerintahan Jayanagara sendiri begitu banyak terjadi pemberontakan. Pemberontakan dilakukan oleh orang-orang yang merasa berjasa kepada ayahnya, Raden Wijaya ketika dahulu. Pemberontakan-pemberontakan tersebut sebagai berikut :

  1. Pemberontakan pada tahun 1309 yang dilakukan oleh Ranggalawe yang kecewa lantaran tidak diberikan jabatan sebagai patih, tetapi hanya sebagai penguasa wilayah.
  2. Pemberontakan pada tahun 1311 yang dilakukan oleh Lembu Sora. Pemberontakan tersebut dipicu oleh hasutan pejabat kerajaan yang bernama Mahapati. Ini juga sudah pernah menghasut di zaman raja Wijaya.
  3. Pemberontakan yang terjadi pada tahun 1316 yang dipimpin oleh Nambi. Pembrontakan ini disebabkan oleh ambisi sang Ayah (Aria Wiraraja) yang menginginkannya menjadi raja.
  4. Pembrontakan di tahun 1319 yang dilakukan oleh Kuti. Dalam pembrontakan ini, Kuti berhasil menduduki kerajaan yang menyebabkan Raja Jayanagara harus disembunyikan ke tempat yang aman di sebuah desa yang bernama Badander. Dan berkat Gajah Mada, yang saat itu menjadi pemimpin pasukan Bhayangkari, kerajaan dapat direbut kembali.

Jayanagara sendiri pada akhirnya meninggal di tangan Tanca, seorang dharmaputera yang juga berprofesi sebagai tabib. Ketika dia mengoprasi penyakit bisul sang Raja, digunakan kesempatan tersebut untuk menikam raja di tempat tidurnya, lalu Gajah Mada yang berada di dekatnya langsung menikam Tanca hingga tewas. Meskipun begitu, penyebab kematian raja sendiri masih simpang siur dan memiliki berbagai versi.

Jayanagara dicandikan di Sila Pethak dan Bubat didirikan arca Wisnu, di Sukalila didirikan arca Budha sebagai Amogasidi (Negarakretagama pupuh XLVIII/3).

 

Catatan:

Terkadang kekukuasaan membuat orang lupa diri, dan bisa menimbulkan saling menghancurkan, meskipun pada awalnya memiliki hubungan yang dekat. Oleh sebab itu, pentingnya memurnikan suatu kekuasaan tersebut dengan menguatkan tujuan akan kekuasaan adalah untuk kebaikan bersama adalah hal yang penting, supaya tidak ada saling tikam dalam meraih kekuasaan.

 

Please follow and like us: