Raden Wijaya, Raja Wilwatikta ke- 1

Raden Wijaya adalah pendiri dan sekaligus raja pertama Wilwatikta. Dalam versi Negarakretagama disebutkan Dyah Wijaya, sedangkan dalam versi Paroton disebut sebagai Raden Harsawijaya. Untuk nama versi prasasti kudadu, 1294 yaitu Naraya Sangramawijaya dengan gelar lengkap Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana, nama ini dianggap paling tepat lantaran tertulis di prasasti Kudadu.

Beliau memerintah dari tahun 1293 hingga wafat  pada tahun 1309 (Negarakretagama). Dicandikan di samping Blitar, Jawa Timur. Beliau diarcakan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu sekaligus Dewa Syiwa atau disebut “Harihara”.

Gambar di bawah ini merupakan gambar arca dari koleksi museum nasional Indonesia, Jakarta.

Menurut kitab Paraton, Raden wijaya berasal dari kerajaan Singhasari yaitu putra dari Mahisa Campaka yang merupakan putra Mahisa Wong Teleng putra dari Ken Arok pendiri kerajaan Singhasari (Tumapel).

Dari prasasti Kudadu terdapat informasi mengenai pembrontakan Jayakatwang, bupati Gelang-gelang terhadap kekuasaan Singhasari. Dari sinilah mulanya, untuk membasmi pembrontak terebut, pangeran Wijaya ditunjuk Raja Kertanegara untuk membasminya dari Utara. Namun meskipun pangeran Wijaya dapat memenangkan pertempuran tersebut, tetapi justru Kertanegara terbunuh lantaran pasukan pembrontak yang cukup besar dari arah Selatan.

Karena hal tersebut, Pangeran Wijaya akhirnya pergi untuk berlindung di Terung sebelah Utara Singhasari. Namun pada akhirnya, dibantu oleh kepala desa Kudadu, beliau berhasil menyeberangi selat Sunda menuju ke Songeneb, nama lain dari Sumeneb,  Madura, di sana Ia bertemu dengan Arya Wiraraja.

Bersama dengan penguasa Songeneb tersebut, pangeran Wijaya membuat rencana kembali untuk merebut kembali tanah leluhurnya dengan janji untuk membagi dua wilayah kekuasaan. Lalu taktik pun dimulai dengan pemberitahuan kepada Jayakatwang bahwa Wijaya sudah menyerah, utusan pun diutus untuk menjemputnya.

Setelah itu, pangeran wijaya meminta hutan Tarik untuk ditinggali serta dijadikannya tempat wisata berburu, karena hobi berburu Jayakatwang tanpa curiga pun mengabulkannya. Wiraraja penguasa Songenep pun mengirim orangnya untuk membantu raden Wijaya membuka hutan di sana. Menurut Kidung Panji Wijayakrama,  pemukiman tersebut diberi nama Majapahit lantaran seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit.

Menurut catatan Dinasti Yuan, di tahun 1293 Ike Mese membawa pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang untuk menghukum Kertanegara, Raja Singhasari sebelumnya karena di tahun 1289 beliu melukai utusan raja Mongol , Kublai Khan.

Raden Wijaya akhirnya melakukan persekutuan dengan tentara Mongol tersebut, tetapi Jayakatwang mengetahuinya, dan akhirnya mengirim pasukan untuk memeranginya, tetapi dapat dikalahkan oleh pasukan Mongol.

Bersama dengan pasukan Mongol, Raden Wijaya menyerang ibu kota kerajaan Kadiri yang ada di Daha, kerajaan yang dibangun oleh Jayakatwang setelah mengalahkan Kertanegara. Akhirnya  Jayakatwang menyerah ditawan oleh Mongol.

Setelah pertempuran dapat diselesaikan, Wijaya izin kepada Ike Mese untuk kembali ke Majapahit dalam rangka mempersiapkan diri untuk penyerahan diri . Namun setibanya di Majapahit, para prajurit Mongol  yang mengawalnya dibunuh. Ketika pasukan Mongol sedang asyik berpesta kemenangan, Wijaya menyerang mereka dan menyebabkan banyaknya pasukan Mongol yang tewas dan akhirnya pergi meninggalkan pulau Jawa.

Penobatan Raden Wijaya menjadi raja dilakukan pada takun Saka 1215 pada tanggal 15 bulan Kartika atau 12 November 1293.

Raden Wijaya mengangkat orang-orang setianya terdahulu menjadi Patih dan Pasangguhan. Nambi sebagai patih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, sedangkan Arya Wiraja dan Ranggalawe diangkat menjadi Pasangguhan. Tidak lupa akan kepala desa Kudadu, Wijaya pun memberikan pengharggan kepadanya pada tahun 1294 karena berjasa menghantarkannya ke pulau Madura.

Perang Saudara pernah terjadi di era Raja Wijaya lantaran provokasi seorang yang bernama Mahapati yang menghasut Ranggalawe terkait pengangkatan Nambi menjadi Patih. Pembrontakan pun dikobarkan, dan Ranggalawe pun tewas.

Setelah tewasnya Ranggalawe, Wiraraja mengundurkan diri dari Pasangguhan dan menagih janji Raden Wijaya terdahulu yang menjanjikan pembagian dua wilayah kerajaan. Pembagian pun dilakukan, di sebelah timur diberikan kepada Wiraraja dengan ibu kota Lamajang (Lumajang).

Perpecahan terjadi di tahun 1300 pengungkitan pembunuhan Ranggalawe yang merupakan keponakan dari Lembu Sora terjadi, meskipun Sora membela Majapahit tetapi karena tidak tahan akan peristiwa tersebut lalu membunuh Kebo Anabrang yang telah membunuh Ranggalawe. Mahapati mengungkit peristiwa tersebut, pada puncaknya Lembu Sora bersama kedua temannya, Gajah Biru dan Jurudemung dibantai oleh kelompok Nambi di halaman Istana.

Catatan penulis

Kisah di atas sangat banyak sekali keburukan dalam politik dan taktik dalam meraih kekuasaan. Dari pembrontakan hingga intrik tipu-tipu sangat kental terjadi. Perpecahan akibat perebutan kekuasaan akibat provokasi pun terjadi. Persahabatan berubah menjadi permusuhan, saling tikam antara satu dengan yang lain dalam perebutan kekuasaan merupakan cara yang buruk dalam sistem kerajaan. Tetapi marilah kita ambil hikmah dan baiknya dari kisah di atas.

Refrensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya

https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/raja-rani-wilwatikta/raja-wilwatikta-ke-1-sri-maharaja-kertarajasa-jayawardhana/

 

Please follow and like us: